Thursday, July 2, 2009

[Latbar Food Photography] show your shoots from what ever camera you have

PROLOG :

Sehari sebelum berkumpul dengan para member KBB Bandung untuk belajar
food photography di rumah Mamajo, saya menghadiri acara sunatan keluarga. Kebetulan yang disunat adalah anak dari Saudara yang saya yang memiliki hobby photography. Fotographer yang mengabadikan acara sunatan menggunakan Nikon 3 digit (gak keliatan seri-nya :D), dan saudara saya menggunakan Nikon D80 dengan lensa Nikkor 200 mm. Good lens though..

Dari situ saya berbincang sedikit mengenai photography. Lalu saya bilang kalo besok akan menghadiri acara latbar
food photography bersama klub baking saya. Saudara saya bertanya "senjata" apa yang saya gunakan untuk memotret? Saya cuma bisa nyengir lebar... Kalo saya bilang bukan DSLR nanti diketawain lagi.

Tapi alhamdulilah ternyata Saudara saya ini bukan orang yang saklek gadget. Setelah saya bilang kalo saya hanya menggunakan kamera prosumer biasa, dia memang sedikit menyayangkan karena harganya beda tipis dengan DSLR kelas pemula. Tapi dia bilang gapapa kalo memang belum punya DSLR karena harus dipikirin juga sejauh mana kita mampu menahan diri untuk tetap rasional mempersenjatai DSLR kita dengan lensa dan aksesoris yang sesuai dengan kebutuhan. Kesimpulannya, nggak akan ada habisnya deh kalo ngebahas gadget photography karena ini memang hobby yang tidak murah.

Dari situ saya jadi bertanya-tanya..
Sejauh mana sih hobbby photography itu required DSLR untuk memperoleh keabsahan dari sesama penggemar lainnya. Caila bahasanya...

Tapi memang bener lo.. Waktu acara wisuda Rifa, saya berbincang dengan teman Suami yang juga menggunakan Nikon D80. Dari situ saya tanya apakah beliau punya
account Flickr atau menjadi member club photography tertentu, dan beliau bilang tidak. Saya tanya kenapa? Katanya dia belum berani majang foto karena senjatanya masih standar. Saya hampir tersedak.. D80 dengan lensa 18-55 mm itu kehitungnya standar ya bow? Langsung nyembunyiin kamera sendiri. Kata beliau sih standar karena belum punya fix lens, filter, lensa tele, dan ini dan itu dan ono... Lalu saya tanya lagi apakah memang itu semua wajib dimiliki untuk menjadikan kita berani memajang foto hasil karya pribadi di blog? Dari sudut pandang beliau, jawabannya mengarah kepada "YA".

Hm... Saya ciut juga... Mengingat di komunitas
food photography yang saya ikuti, para admin-nya justru malah sangat berbaik hati dengan tidak mementingkan gadget untuk mengikuti tantangan memotret. Pocket, prosumer, DSLR.. semua welcome untuk ikut. Malah kita diberitahu bagaimana caranya kita memaksimalkan fungsi kamera yang kita miliki.

Dan beruntungnya saya bisa tergabung dalam komunitas yang tidak mementingkan gadget ini. Karena saya bisa terus belajar mengenai photography dan food photography pada khususnya tanpa harus terlalu minder dengan kamera yang dimiliki. Bagaimanapun juga, penguasaan ilmu photography itu landasan untuk masuk ke jenjang berikutnya.
Jenjang DSLR maksudnya, Mir? Amiiiiiin... Tahun depan semoga terwujud walo harus dipelototin Suami. Hihihihihi...

***************************************************************************

Dani inilah dokumentasi teman-teman KBB Bandung yang sedang belajar food styling dan food photography bersama Mba Emma Isti (Jakarta) dan Teh Ine Sena (Papua). Dari hasil latbar ini, beberapa pelajaran yang bisa diambil adalah :

  • Gunakan TRIPOD
Tidak terbatasi oleh kamera apapun, pocket ataupun DSLR, penggunaan tripod ternyata banyak membantu ketika kita akan memotret makanan. Fungsinya selain meminimalkan shaking, juga bisa membantu kita melihat menentukan sudut (angle) makanan yang akan difoto secara lebih baik.

Tripod.. Tripod... Use your tripod... :)


Menentukan angle foto menggunakan tripod

  • REFLEKTOR
Selama ini saya pikir satu buah reflektor yang diletakkan melawan cahaya itu cukup. tapi ternyata kita bisa menggunakan sampai 3 buah reflektor untuk menghasilkan foto makanan yang terang dan meminimalkan shadow.
---> Masukan dari Mba Arfi dan Mba Sefa dari komen di Facebook, gunakan reflektor seperlunya. Kadang ada settingan foto yang tidak memerlukan reflektor untuk memperoleh efek yang natural. Reflektor itu digunakan untuk menghasilkan foto yang lebih jernih. Tambah bingung? Jangan yah.. yang penting banyak latihan biar tahu kapan butuh reflektor, kapan enggak. :))


tampak di foto, Teh Ine Sena memegang 2 buah reflektor yang diletakkan melawan cahaya


Contoh foto tanpa reflektor, masih ada shadow di bagian bawah.

  • Gunakan TIMER
Ini trik dari Teh Ine Sena. Untuk lebih meminimalkan shaking, gunakan timer untuk memotret. 2 detik cukup kok. Very good tips! Kok gak pernah kepikirian yah.. :D


Bird Eye View menggunakan tripod dan timer.
Sayang reflektor kurang maksimal jadi masih ada gelap di sebelah kanan foto.


  • WHITE BALANCE (WB) dan ISO
Kadang settingan WB dan ISO Auto tidak memberikan hasil maksimal untuk sebuah foto. Karena itu cobalah untuk mengotak-atik settingan WB agar bisa diperoleh foto yang lebih kinclong. Di siang hari dengan cahaya melimpah, gunakan ISO terendah (64 sampai 200). WB juga bisa dipilih antara Cloudy, Fluorescent, Daylight, dll. Pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan.


Contoh foto dengan WB Auto, hasilnya terkadang kuning. Ketika dirubah ke mode "SHADE", barulah keluar warna aslinya.

  • APERTURE PRIORITY MODE
Teh Ine menyarakan kita menggunakan Aperture Priority Mode (biasanya ditandai dengan kode "A") untuk memotret makanan. Saya sendiri masih mempelajari mode ini. Foto dibawah ini contohnya. Tanpa cropping atau editting sama sekali.


Aperture Priority Mode.
Shutter Speed 1/30s, F stop f/4.5, f/2.8, ISO 100, reflektor di kiri dan kanan piring.



**************************************************************************

Cuma sekelumit aja yang bisa saya review disini. Selebihnya terus terang saya belum berani karena saya sendiri masih belajar. Mudah-mudahan kita semua bisa lebih baik dan lebih maksimal lagi mempelajari tehnik food photography yang memang tidaklah mudah. Selain harus merepotkan diri untuk bisa menciptakan styling yang cantik, mood juga harus sedang oke biar hasil fotonya nggak memble. :)


Rekan-rekan KBB Bandung.
Ki-Ka --> Yohana Halim, Emma Isti, Ine Sena, Molly Maulina, Atiek Yuliati (baju ungu), Tyas June, and Me.. :)

5 comments:

mae said...

Mira dah ganti kameraaaaaaaa yaaaaa... *cihuyyy* asek dah bis gini tambah giat latiannya...

klo boleh nambahin Mir, salah satu yang penting dipelajari dalam fotografi ( apapun itu ) adalah exposure. Dengan pemahaman exposure yang cukup, insya Allah penerapan fotografi akan lebih mudah...

Keep practising ya say...

Ike Hermawan said...

heiii....gaya bahasa na aneh pas prolog..itu mah bukan Mira....:))
semoga bisa saling mengisi, yg pinter ngasi, yang udah tau mau ngasi tau...*loh ko sama....:))

Sofie said...

waaahh... udah ganti kamera Mir?
asiiikkk euy..
tapi sy jadi kehilangan temen sesama kamera saku nih xixixi

Arfi Binsted said...

sip deh Mir. semakin banyak latihan semakin luwes pemahamannya :) sukses ya!

Mira Assjarif said...

Mae, aiiiih masih kamera abal-abal say. Oh iya EV yah.. Bener itu juga esensial. Thanks banget udah ngingetin say. Iya emang kudu terus berlatih. :)

Teh Ike : aneh kitu? hihihihih.. formal teuing nya? :D

Teh Sofie : teuteup yang dinilai mah hasil akhir Teh. Dan punya Teh Sofie selalu ciamik.. Seneng banget liatnya. :)

Mba Arfi : iyah thanks a lot yah Mba.